Jumat, 18 Mei 2012

TEORI KONSELING PSIKOANALISA


A.    Perspektif Historis
Teori konseling psikoanalisa dikembangkan oleh seorang neurology dari Wina, Sigmund Freud, pada awal tahun 1890-an. Formulasi teoritik dari teori ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman atau kehidupan masa kanak-kanak Freud, khususnya cara kedua orangtuanya memperlakukannya. Teorinya tentang kompleks oodipus misalnya, dipengaruhi oleh ketertarikannya bahkan mungkin minat seksualnya terhadap ibunya yang dinilainya sebagai seorang wanita yang rupawan dan lemah lembut, dan perasaan benci terhadap ayahnya yang sanagat keras dalam mendidiknya.
Freud mula-mula seorang dokter (neurolog) yang kemudian tertarik untukbelajar psikiatri dan gangguan psikologis. Dari hasil kolaborasi dengan gurunya, Josef Bruer, dan koleganya, Jean Charcot, Freud belajar dan mengembangkan teknik hipnotis dan ekspresi verbal untuk menangani gangguan emosi (neurotis), meskipun kemudian ia menyadari bahwa teknik tersebut ternyata kurang  efektif dan kemudian mengembangkan teknik yang lain, yakni asosiasi bebas.
Melalui karya-karyanya pada tahun 1890-an Freud mulai menekankan pentingnya pengalaman seksualitas pada masa anak sebagai faktor yang mempenagaruhi histeria dan neurosis. Istilah psikoanalisa mulai diperkenalkan oleh Freud pada tahun 1896 dari hasil  kerjanya sejak tahun 1895 hingga 1899 dalam menganalisis impian dan fantasinya sendiri, Freud memperkenalkan suatu metode yang ia sebut analisis mimpi. Hasil karya yang paling terkenal dari Freud adalah konstruknya tentang tiga struktur kepribadian, yakni id, ego, dan superego.

B.     Pokok-Pokok Teori
1.      Pandangan tentang sifat dasar manusia
Menurut teori konseling psikoanalisa, perilaku dan perkembangan manusia bersifat deterministik. Perilaku dan perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor genetik (biologis) dan berbagai peristiwa pada tahun-tahun awal kehidupan atau pada masa kanak-kanak. Meskipun demikian, teori ini juga mengakui pentingnya peran konteks sosial khususnya lingkungan keluarga dalam mempengaruhi perkembangan. Freud juga memandang manusia sebagai entitas yang memiliki kemampuan untuk menyadari kesulitan atau masalahnya dan memanfaatkan sumber-sumber bantuan lain dan perkembangan pribadinya untuk memahami masalahnya mengalahkan dorongan naluriahnya yang tidak rasional dan membuat perubahan yang positif dan kemudian mencapai kehidupan yang diinginkannya.
2.      Sistem teori
Teori konseling psikoanalisa berakar dari teori kepribadian Freud. Dalam hal ini Freud menggambarkan kepribadian manusia melalui konsep struktur mental (psyche) dan struktur kepribadian.
a.      Struktur mental
·      Kesadaran, merujuk pada apa yang sedang kita persepsi (rasakan, pikirkan, amati). Kesadaran ini dapat dikenali dari apa yang kita rasakan.
·      Ambang sadar, berisikan ingatan-ingatan tentang peristiwa-peristiwa masa  lampau yang siap masuk kedalam kesadaran sewaktu-waktu diperlukan.
·      Ketidaksadaran, ditamsilkan sebagai gudang dari imej-imej yang tak dapat diterima (ditolak oleh norma tertentu), peristiwa masa lampau, impuls-impuls dan keinginan yang tidak kita sadari. Materi-materi di dalam ketidaksadaran berpotensi menimbulkan ketegangan, ancaman dan perasaan cemas. Materi ini sering muncul ke kesadaran dalam bentuk halusinasi atau impian.
b.      Struktur kepribadian
·      Id, merupakan struktur yang kita bawa sejak lahir dan bersisikan semua potensi bawaan, termasuk naluri-naluri yang umumnya tidak kita sadari. Di dalam id terdapat dorongan-dorongan naluriah yang cenderung primitif dan menimbulkan ketegangan karena menuntut untuk dipenuhi. Untuk memuaskan dorongan-dorongan, id menggunakan dua mekanisme tindakan refleks dan proses primer.
·      Dorongan naluriah, dibedakan menjadi dua, yakni:
Ø  Naluri hidup (libido) yang merefleksikan kebutuhan id untuk mengejar kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan.
Ø  Naluri mati (tanatos) yang merupakan dorongan-dorngan agresif yang negatif yang dapat mecelakakan diri sendiri atau orang lain.
·      Ego, berfungsi untuk membantu id memenuhi dorongan-dorongannya secara nyata dan bukan hanya sekedar membayangkan atau melamun. Ego tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan id, tetapi juga merintangi atau menolak dorongan-dorongan yang tidak di ijinkan oleh norma atau kode moral yang ditekankan oleh lingkungan sosial. Ego merupakan aspek eksekutif (pengendali atau pengatur) dari struktur kepribadian.
·      Superego, merupakan aspek kepribadian yang berisikan nilai-nilai atau kode moral masyarakat yang di internalisasi oleh anak melalui pedidikan orang tua. Manusia yang mengikuti arahan superegonya cenderung bisa menyesuaikan dirinya dengan baik namun mungkin menderita karena banyak dorongan kesenagan yang tidah terpuaskan. Sebaliknya, manusia yang kurang mendengarkan superegonya cenderung bisa memuaskan dorongannya tetapi sering kali ditanggapi rasa bersalah, malu dan cemas. Superego berfungsi membatasi dorongan-dorongan id dan mengendalikan ego agar tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan kode moral atau norma masyarakat.
Manusia yang mengikuti arahan superegonya cenderung dapat menyesuaikan dirinya dengan baik namun mungkin menderita karena banyak dorongan kesenangan yang tak terpuaskan. Sebaliknya, manusia yang kurang mendengarkan superegonya cenderung dapat memuaskan dorongannya namun seringkali dihinggapi rasa bersalah, malu dan cemas.
c.       Perkembangan kepribadian
Tahapan perkembangan Freud disebut tahapan psikoseksual, karena merepresentasikan suatu kebutuhan seksual yang menoojol pada setiap tahapan perkembangan.
Tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual:
·         Tahap oral, kontak pertama yang dilakukan oleh bayi setelah kelahirannya adalah melalui mulut (oral). Kepuasan seksual pada saat ini diperoleh melalui mulut, yakni melalui berbagai aktivitas mulut seperti makan, minum, menghisap, dll.
·         Tahap anal
Pada usia 1 tahun anak melakukan interaksi melalui fungsi pembuangan isi perut (anal) dan pembuangan. Setelah di belajarkan tentang cara-cara pembuangan melalui prosedur latihan pembuangan (toilet training) anak memperoleh tuntutan untuk mengendalikan perilakunya dan mengikuti cara-cara pembuangan yang benar.
·         Tahap palis
Interaksi dalam tahap ini bersifat genital dan terjadi ketika anak berusia sekitar 4 tahun. Anak laki-laki mengembangan fantasi seksual dengan ibunya, peristiwa ini disebut Oedipus complex dan perempuan mengembangkan fantasi seksual dengan ayahnya, peristiwa ini disebut electra complex.
·         Tahap laten
Pada tahap ini anak laki-laki dan perempuan menekan semua isu-isu oedipal dan kehilangan minat seksualnya. Sebaliknya, mereka mulai melibatkan dirinya kedalam kelompok bermain yang terdiri atas anak-anak lain dari jenis kelamin yang sama, yang bersifat full-male atau full-female. Tahapan ini terjadi ketika anak memasuki periode pubertas.
·         Tahap genital
Ketika memasuki masa pubertas, anak-anak mulai tertarik satu sama lain dengan lawan jenisnya dan menjadi manusia yang lebih matang. Mereka saling mengembangkan hubungan dan minat-minat seksual, cinta dan bentuk-bentuk keterikan-keterikatan yang lain.
d.      Mekanisme pertahanan ego
Ketiga struktur ego (id, ego, dan superego) tidak selalu dapat bekerja sama secara harmonis. Dalam rangka memenuhi kebutuhan id, antara ketiga divisi kepribadian tersebut sering terjadi konflik. Konflik antara ketiga struktur kepribadian tersebut disebut konflik intrapsikis. Konflik tersebut berpotensi menimbulkan perasaan cemas
Jika ego tidak mampu menemukan cara-cara yang realistis untuk merespon rasa cemas ia menggunakan cara-cara yang tidak realistis yang disebut mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism).


C.    Implementasi
Implementasi teori konseling psikoanalisa:
1.      Tujuan
Sesuai dengan asumsi-asumsi dasar tentang sifat dasar manusia yang dipegang, konseling psikoanalisa bertujuan untuk membantu individu (konseli) agar mampu mengoptimalkan fungsi ego dengan cara mencapai keseimbangan psikologis. Keseimbangan psikologis ini dicapai dengan cara meniadakan kecemasan atau menangani konflik-konflik intrapsikis
Baker (1985) mengemukakan lima tujuan khusus konseling psikoanalisa, yakni membantu individu agar mampu untuk :
·      Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional
·      Memperkaya sifat dan macam mekanisme pertahanan ego sehingga lbih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima
·      Mengembangkan perspektif yang lebih berlandaskan pada assesmen realitas yang jelas dan akurat dan yang mendorong penyesuaian
·      Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yang akrab dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi dan orang lain
·      Menurunkan sifat perfeksionis (mengejar kesempurnaan) rigid (kaku), dan punitive (menghukum).
2.      Proses
Praktek dalam konseling psikoanalisa sebagaimana di lakukan oleh freud dan para praktisi modern psikoanalisa pada umumnya merupakan suatu proses yang panjang dan intensif dengan beberapa kali pertemuan.
Konselor secara aktif juga harus mendengarkan (dengan penuh perhatian) konseli dan mengarahkan sesi-sesi menuju pengungkapan materi-materi kompleks terdesak. Dalam hal ini, konselor diibaratkan mendengarkan klien dengan menggunakan tiga telinga guna memahami kata-kata symbol, kontradiksi, yang mungkin merupakan kunci untuk membuka pintu ketidaksadaran. Pertanyaan, interpretasi, asosiasi bebas, dan dorongan merupakan teknik-teknik umum yang digunakan oleh para konselor psikoanalisa.   
3.      Teknik konseling
Freud dan para konselor psikoanalisa menggunakan banyak teori guna mendorong konseli untuk berbicara tentang masalahnya. Beberapa teknik yang umum digunakan adalah :
a.      Transferen dan Kontratransferen
Transferen adalah suatu keadaan yang menggambarkan konseli memproyeksikan karakteristik orang lain, biasanya orangtua atau orang lain yang menjadi tokoh identifikasi konseli atau dengan siapa konseli punya masalah ke dalam diri konselor dan bereaksi terhadap konselor seolah-olah konselor memiliki karakteristik orang lain tersebut. Untuk membawa kesadaran klien terhadap realita, maka transferen harus dihentikan. Ini dilakukan dengan teknik Kontratransferen. Melalui teknik ini konselor memproyeksikan ke dalam diri klien karakteristik orang lain yang penting (berpengaruh) dalam kehidupan masa lampaunya.
b.      Asosiasi bebas
Asosiasi bebas didasarkan pada suatu asumsi bahwa orang akan mangatakan apapun yang ada di dalam benaknya tanpa sensor atau penilaian.       Melalui asosiasi bebas konselor berusaha mempertalikan antara satu pikiran konseli dengan pikiran-pikiran lainnya. Contoh : kita mungkin mendengarkan suatu musik dan mengingatkan kita pada lagu tertentu, mengingatkan kita pada suatu peristiwa tertentu seperti pengalaman dengan kekasih, pada kemarahan orangtua ketika kita pulang terlambat setelah kencan dengan kekasih, dll. Melalui asosiasi bebas, music dapat membangunkan perasaan cemas yang kuat karena ia beekaitan dengan emosi yang tak mampu kita terima. Freud dan konselor psikoanalisa menggunakan asosiasi bebas untuk mendorong klien mengingat kembali kesan-kesan atau materi-materi masa lampau dan kemudian membebaskan perasaan tertekannya.
c.       Abriaksi
Teknik abriaksi digunakan untuk mempermudah hubungan antara emosi dan materi-materi komplek terdesak. Teknik ini dilaksanakan dengan cara meminta konseli menghayati kembali melalui imajinasi , pengalaman asli serta emosi yang menyertai atau mengikutinya. Dalam hal ini, emosi konseli dipandang sebagai kondisi mental yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa masa lampau yang sekarang menjadi komkpleks terdesak dan oleh karena itu perlu diungkap. Saat ini, teknik ini tidak hanya digunakan oleh para konselor psikoanalisa saja tetapi juga oleh konselor dari orientasi teoretis yang lain untuk membantu konseli menangani reaksi emosional yang sangat kuat terhadap suatu peristiwa (Seligman, 2001)
d.      Analisis dan Interpretasi
Analisis dan interpretasi digunakan untuk mendorong kesadaran dan pemahaman (insight) dengan cara membawa materi-materi kompleks terdesak ke daalm kesadaran. Tujuannya adalah agar konseli dapat memperoleh pemahaman tentang hubungan antara kesulitan-kesulitannya pada saat sekarang dengan berbagai peristiwa atau pengalaman masa lampaunya. Harapan dari cara ini adalah konseli mampu untuk membuat perubahan yang positif. 
Analisis adalah suatu proses mengungkap dan memahami materi-materi kompleks terdesak konseli, termasuk didalamnya peristiwa-peristiwa atau pengalaman traumatik masa lalu dan impian-impian.
Interpretasi merupakan suatu proses membentangkan atau menguraikan makna dari simbul-simbul material bawah sadar yang dikomunikasikan oleh konseli dan kemudian mempertalikan dengan masalah atau kesulitan yang dialami konseli pada saat sekarang.
Dengan memahami materi-materi kompleks terdesak, baik secara emosional maupun kognitif, memungkinkan konseli untuk :  1) memahami pengaruh-pengaruh impuls terdesak, pengalaman, dan peristiwa masa lampau pada kesulitannya; 2) memilih atau menggunakan strategi mekanisme pertahanan ego yang lebih tepat; 3) membebaskan dirinya dari dampak negatif materi-materi yang ditekannya ke alam bawah sadar sejak masa kanak-kanak.  


D.    Aplikasi
Konseling psikoanalisa diakui oleh freud sebagai suatu pendekatan yang hanya tepat untuk kelompok individu tertentu. Seiring perkembangan teori psikoanalisa tersebut, gangguan mental (gangguan kepribadian) dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu: psikosis dan neurosis.
Psikosis merupakan bentuk gangguan mental yang di tandai oleh hilangnya kontak dengan realitas karena hilangnya kemampuan individu untuk mempersepsi dan menginterpretasikan pengalaman internal dan eksternalnya. Konseling psikoanalisa tidak bisa di gunakan untuk menangani penderita psikosis.
Neurosis ditandai dengan adanya gangguan emosi, kognisi, dan perilaku yang menghambat kemampuan individu untuk berperilaku secara sehat atau berfungsi normal. Meskipun mereka mengalami kesulitan untuk memahami makna pengalamannya, tapi mereka masih memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya, bisa membentuk perilaku produktif, dapat memisahkan antara impian, fantasi, dan realitas. Freud membagi neorosis menjadi 2 kategori, yaitu: neurosis transferen dan neurosis narsistik. Neurosis transferen melibatkan konflik antara id dan ego. Sedangkan neurosis narsitik melibatkan konflik antara ego dan superego. Freud memiliki keyakinan bahwa hanya tipe neurosis transferen yang hanya dapat di tangani melalui psikoanalisa. Namun, pada saat ini banyak konselor psikoanalisa yang mengembangkan keyakinan bahwa psikoanalisa bisa digunakan secara efektif untuk menangani semua gangguan nonpsikotik.

Pengertian
BIMBINGAN PRIBADI – SOSIAL 
Bimbingan pribadi - social merupakan bimbingan untuk membantu para individu
dalam memecahkan masalah-masalah social pribadi.
Bimbingan pribadi - sosial adalah layanan bimbingan untuk membantu siswa agar menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri, sehat jasmani dan rohani serta mampu mengenal dengan baik dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya
secara bertanggung jawab. 
Bimbingan pribadi - social pribadi diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi
serta ragam permasalahan yang dialami oleh individu.
Adapun masalah yang terhimpun dalam persoalan pribadi-sosial meliputi masalah hubungan interaksi dengan orang lain (orang tua, saudara, teman, guru dan masyarakat di lingkungan individu), masalah pengaturan diri baik dalam bidang kerohanian, perawatan diri (jasmani dan rohani), penyaluran dorongan seksual, penyelesaian konflik dan sebagainya.
MASALAH-MASALAH BIMBINGAN PRIBADI –SOSIAL :
1) Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2) Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan yang lebih kreatif, produktif, dan normatif baik dalam keseharian maupun untuk peran di masa yang akan datang.
3) Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi dan penyaluran dan pengembangannya pada/melalui kegiatan yang kreatif dan normatif dan produktif.
4) Pemantapan tentang kelemahan diri dan usaha penanggunlanggannya.
5) Pemantapan kemampuan pengambilan keputusan.
6) Pemantapan kemampuan mengarhkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambil.
7) Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidp sehat jasmani dan rohani.
8) Pemantapan kemampuan berkomunikasi.
9) Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan argumentasi secara dinamis, kreatif, normative dan produktif.
10) Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial dengan penuh tanggung jawab.
11) Pemantapan hubungan yang dinamis dan harmonis dengan teman sebaya, orang tua, dan masyarakat sekitar.
12)  Orientasi tentang kehidupan berkeluarga.


Kamis, 12 April 2012

MENGENAL AUTISME

Anak-anak penyandang spektrum autisme biasanya memperlihatkan setidaknya setengah dari daftar tanda-tanda yang disebutkan di bawah ini. Gejala-gejala autisme dapat berkisar dari ringan hingga berat dan intensitasnya berbeda antara masing-masing individu.
Hubungi profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme, jika anda mencurigai anak anda memperlihatkan setidaknya separuh dari gejala-gejala ini :
 Sulit bersosialisasi dengan anak-anak lainnya
 Tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya
 Tidak pernah atau jarang sekali kontak mata
 Tidak peka terhadap rasa sakit
 Lebih suka menyendiri; sifatnya agak menjauhkan diri.
 Suka benda-benda yang berputar / memutarkan benda
 Ketertarikan pada satu benda secara berlebihan
 Hiperaktif/melakukan kegiatan fisik secara berlebihan atau
 malah tidak melakukan apapun (terlalu pendiam)
 Kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya; suka
 menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan
 daripada kata-kata
 Menuntut hal yang sama; menentang perubahan atas hal-hal yang
 bersifat rutin
 Tidak peduli bahaya
 Menekuni permainan dengan cara aneh dalam waktu lama
 Echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa biasa)
 Tidak suka dipeluk (disayang) atau menyayangi
 Tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata; bersikap seperti orang tuli
Tidak berminat terhadap metode pengajaran yang biasa
 Tentrums – suka mengamuk/memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas
 Kecakapan motorik kasar/motorik halus yang seimbang (seperti tidak mau menendang bola namun dapat menumpuk balok-balok)

Senin, 09 April 2012

TANDA ANAK BERBAKAT

Tanda-tanda Umum Anak Berbakat
Sejak usia dini sudah dapat dilihat adanya kemungkinan anak memiliki bakat yang istimewa. Sebagai contoh ada anak yang baru berumur 2 tahun tetapi lebih suka memilih alat-alat mainan untuk anak berumur 6-7 tahun; atau anak 3 tiga tahun tetapi sudah mampu membaca buku-buku yang diperuntukkan bagi anak usia 7-8 tahun. Mereka akan sangat senang jika mendapat pelayanan seperti yang mereka harapkan.
Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, kalau sedang bermain seperti anak seusianya, tetapi kalau membaca seperti anak berusia 10 tahun, kalau mengerjakan matematika seperti anak usia 12 tahun, dan kalau berbicara seperti anak berusia lima tahun. Yang perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalamai kesulitan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa bisaanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
Di kelas-kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar anak-anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, misalnya: tulsiannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yang tidak diajarkan di kelas. Tulisan anak berbakat sering kurang teratur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menulis. Perkembangan pikirannya jauh ebih cepat daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara perkembangan kognitif dan perkembangan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya

Definisi Anak Berbakat (GIFTED CHILD)


Pengertian Anak Berbakat (GIFTED CHILD)
Secara umum anak berbakat diartikan sebagai anak yang memiliki tingkatan IQ tinggi dan memiliki keterampilan tertentu. Menurut definisi yang dikemukakan Joseph Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
  1.  High Potential Ability (Kecerdasan Tinggi) Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas tahun 2003 adalah 140 . Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke atas, maka anak itu otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul pembagian tertentu untuk anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan (IQ 115 – 129), keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145 ke atas)
  2. Task Commitment adalah sejauh mana tanggung jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari sekolah tapi juga tugas di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes tertentu yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup tanggung jawab, motivasi, keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang jelas sebelum melakukan sesuatu dan kemandirian.
  3. Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4 hal, produk, pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan kreatif kalau produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari yang lain dan tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah terbuka pada hal-hal baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri, berani mengambil resiko, berani tampil beda, percaya diri dan humoris.
Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).
Pengertian lain menyebutkan bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.